Selasa, 10 Juni 2014

Membangun Tim Kuat Klub Sepakbola


Membangun Tim Kuat Ala Klub Sepakbola

Membandingkan tim yang kita miliki dalam organisasi, kepanitiaan dan kelompok dengan tim sepakbola, bisakah? Dalam sepakbola, pasti kita tahu ada 11 pemain adanya. Apakah mereka cenderung sama? Simaklah.

Tubuh kekar dan besar mendominasi posisi pertahanan. Bek tengah tak semua harus pandai menggiring dan memiliki kecepatan. Beberapa klub memiliki bek tangguh yang bertubuh kekar namun sigap menghalau lawan. Contoh : Terry (Chelsea), Thiago Silva (PSG), dan Puyol (Barca).

Khusus bek sayap, biasanya harus mampu menjaga pertahanan sekaligus sesekali membantu penyerangan. Tentunya kemampuan umpan lambung akurat dibutuhkan. Contoh : Dani Alves (Barca), Clichy (City), dan Evra (United)

Posisi tengah juga beragam, ada yang kecil, namun juga ada yang besar. Ada yang menjadi penyeimbang, biasanya memiliki kemampuan umpan lambung dan pengatur permainan. Dari fisik biasanya beragam. Contoh : Pirlo (Juventus), Gerrard (Liverpool) dan Xabi Alonso (Madrid). Ada juga pengatur irama permainan, ianya tak dituntut bertubuh besar, namun dari dirinyalah penyerangan dibangun perlahan. Jadi biasa playmaker tim kuat diisi mereka yang memiliki skill dribble yang hebat. Contoh : Silva (City), Xavi (Barca), Hazard (Chelsea)

Posisi penyerang utama biasa diisi sosok yang juga bertubuh kekar, agar bisa berduel dengan pertahanan lawan. Tengok sosok Cavani (Napoli), Ibrahimovic (PSG), Van Persie (United).

Terlepas dari keakuratan contoh yang saya kemukakan tentang klasifikasi fisik pemain sepakbola berdasarkan posisinya, secara gamblang bisa kita temukan perbedaan pada kenyataannya.

Bayangkan, apabila suatu tim dihuni 11 macam orang seperti Cristiano Ronaldo dengan kemampuan dribel, tendangan, dan teknik yang luar biasa, apakah itu akan menjamin akan menjadi tim yang tangguh? Belum tentu. Timnya mungkin akan kuat di lini tengah dan depan, namun lini belakang? Messi sebagai pemain terbaik dunia saat ini juga pasti mengalami hal yang sama. Serba bisa tapi tetap, tidaklah sempurna.

Jadi poin pertama :

The best man comes when he is in his best position

Ini adalah pelajaran bagi kita agar bisa melihat potensi orang di sekitar kita. Penempatan mereka sesuai kemampuan terbaiknya, tentunya merupakan strategi untuk mencapai hasil maksimal yang diinginkan.

Tetapi jangan pernah menutup kemungkinan untuk memberikan kesempatan rekan kita di posisi baru. Ibarat dalam sepakbola, Kaka yang awalnya diplot Ancelotti sewaktu di Milan sebagai gelandang bertahan, semakin trengginas ketika menjadi gelandang serang di belakang dua striker. Yeah, kita perlu mengasah kejelian dalam menganalisa potensi.

Selanjutnya bayangkan dalam sepakbola dengan perbedaan yang ada di segala posisi. Masihkan berpikir 11 pemain bertipe seperti Buffon mampu membentuk tim yang kuat? Tidak bukan. Semua yang berbeda fisik dan kemampuan tadi saling melengkapi dan menyempurnakan satu dengan lainnya

Poin kedua :

Melengkapi satu sama lain, itulah guna perbedaan dalam tim.

Jadi jangan pernah gunakan alasan perbedaan kemampuan sebagai dalih ketidakkompakan tim. Karena itu sebenarnya justru menjadi potensi apabila kita bisa mengaturnya dengan baik.

Lalu apa yang menyatukan perbedaan di antara pemain sepakbola?

Tentu alasan yang mendasar yaitu ketika mereka semua melihat ke arah gawang lawan. Ya, sebuah gol. Sebuah kemenangan. Itulah dasar utama semua mau bahu membahu, berbagi operan karena sama-sama ingin mengarahkan bola ke arah yang sama. Entah lewat umpan pendek, umpan panjang, maupun dribel individu melewati lawan. Semuanya mengarah ke arah yang sama.

Poin ketiga :

Samakan tujuan, baik visi maupun misi

Tentunya semua klub sepakbola menginginkan kemenangan. Namun tentu diperlukan kesepahaman tentang gaya bermain yang akan mereka lakukan, bukan? Kesepahaman akan menciptakan harmonisasi yang indah. Tengok saja gaya main tiki taka ala Barca yang mengundang decak kagum seantero dunia.

Bagaimana dengan tim yang kita miliki, sudahkan semua sepaham tentang tujuan jangka pendek ataupun panjang yang ingin kita dapatkan? Jika belum, yuk benahi dari sekarang.

Dan yang paling penting, gaya sepakbola modern selalu menuntut semua pemain mampu bertahan dan menyerang. Lihat klub klub besar ala United, Juventus, Barcelona yang menjadi jawara di negaranya, kadang pemain belakang pun ikut mencetak gol. Yah, tidak harus menunggu gol dari striker, walau tugas striker sendiri memang dalam penyerangan yaitu mencetak gol. Namun sekarang, tidak semua striker dicela karena tak banyak mencetak gol asalkan ia berperan dalam terciptanya gol. Menakjubkan bukan, karena satu tim memahami kemenangan akan tercipta apabila terjadi gol, maka peluang sekecil apapun mereka perjuangkan untuk terciptanya gol. Tentunya tanpa mengesampingkan peran yang mereka dapat sesuai posisi tadi.

Poin keempat :

Maksimalkan kontribusi dengan peran apapun yang dimiliki

Sebaliknya, apabila klub sedang mendapatkan serangan dari lawan. Semuanya pun berubah status menjadi bertahan, konsentrasi menjaga ruang dan melihat peluang merebut bola. Yah, tanggung jawab antara penyerangan dan pertahanan bukan lagi masalah peran. Semua bertanggung jawab dengan posisinya, namun tetap saling bahu membahu karena tujuan utama adalah kemenangan. Kemenangan tidak akan diperoleh apabila gol banyak tercipta, namun gawang lebih banyak kebobolan. Sebaliknya gawang sendiri aman, namun tidak mampu sedikitpun mencetak gol juga tidak akan menuai kemenangan.

Dalam organisasi ini, mungkin kita mendapatkan peran tertentu. Dan sadarilah, kesuksesan yang kita tuai buakan semata-mata apabila tugas bagian kita selesai, namun tugas keseluruhan satu organisasi tersebut yang selesai. Jadi jangan pernah terkotak-kotakkan oleh posisi. Cukup perankan diri ini sebaik yang mungkin dalam berkontribusi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar